Rabu, 18 Januari 2017

Bibit Kekerasan jangan Dibiarkan



Bukannya marah, aku malah geli waktu mendengar percakapan mereka ini ..

Mamanya Zaki tidak bisa menahan kesal, maka bocah berpipi montok itu habis kena omel. 😁

“Aduh Deeek..kan udah Mama bilang, jangan suka berantem."

Si Zaki nengokin mamanya tanpa rasa gusar, muka kekanak-kanakannya bikin aku senyum-senyum.

“Tulah Pak, saya gak cocok sama pendapat papanya dan abangnya Kek ginilah, Zaki asik disuruh berani ngadepin orang. Selalu dibilang, 'Kau laki-laki, jangan nanges, jangan bawak air mata pulang. Lawan aja, jangan jadi pelor...” mama bicara penuh semangat .

“Sampe kata abangnya, ada barang apa lemparkan!"

“Jadi kalok luka?” Mama cerita bantahan Zaki.

“Lukak kan ada rumah saket, diobati.. Kek gitulah Pak ajaran orang tu.  Saya selalu bilang, ‘ Jangan ya Nak...gak boleh ‘”

Diskusi kami kemaren jauh dari marah-marah. Padahal bu Nurhayati Chaniago, yang anaknya juga kena pukul, kepalanya masih benjol sampe sekarang.

Mendengar kronologi mamanya Zaki bercerita, pola asuh yang tak sama antara Papa, Mama dan abangnya membuat si anak lebih memilih pro papa dan abang. Tidak lain biar diakui kelelakiannya.

Kata mamanya Zaki dulu anak yang manis, masa SD rajin mengaji, tahfiz, lomba busana dan kawannya banyak anak cewek.

Masuk SMP semua berubah,  dulu sholat tanpa diingatkan, sekarang disuruh pun susah. Dia bilang kata orang-orang kayak orangtua aja sholat 😢

Usia SMP adalah usia rawan, mereka sedang mencari jati dirinya, butuh pengakuan dan menunjukkan eksistensinya.

Kata wali kelas dan guru BK, emosi mereka gampang terpancing, cuma karena saling senggol dan bereng (lirik) aja bisa jadi masalah.

Kalau kejadian pada anak-anak di atas, cuma perkara ditertawakan. Si Zaki tidak senang diketawai oleh Luthfi dan Rayyan saat main game berkelompok. Menurutnya mereka nglece. Nglece itu bahasa Medan yang artinya ngejek 😁.

Zaki dinilai tempramental, teman-temannya sendiri yang memberi kesaksian, kalau dia ringan tangan.

Menurut sang Mama sebenarnya ni anak baik dan dermawan. Kalau punya uang suka diabisin buat dibagi-bagi sama pengemis yang ditemui. 👍

“Tapi Buk, Zaki sering cerita tentang Rayyan.. Rayyan gitu, gak ada masalah keknya , tapi kok marahan?” tanya mamanya Zaki kemudian .

Di rumah kutanya sama Rayyan tentang ini, “Iya, dia baek sama Rayyan, tapi suka iseng.”

Hari Jumat ini bentuk keisengannya yang mengkhawatirkan berkelanjutan .

Wajarlah anak-anak bercanda yakan , tapi kalau sudah menjurus penyerangan fisik janganlah  dibiarkan berlarut. Apalagi di kalangan anak laki-laki.

Dan sebenarnya anak kami bukan lebay, sedikit-sedikit mangadu ke orangtua, bahkan mamanya Luthfi tidak tahu kejadian tersebut seandainya tidak kutelepon.

Masalahnya, Zaki sudah berulangkali melakukan keisengannya.

Rayyan biasa bercerita apa pun padaku. Walau sebelum mulai cerita didului dengan ancaman , “Mama jangan lebay ya?” Wkwkwk . . . Emak-emak memang suka lebay, panikan.😜

Wali kelas dan guru BK mengapresiasi positif pada diskusi tiga orang emak ini (aku , mamanya Luthfi dan mamanya Zaki). Diputuskan Zaki akan didampingi sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Mungkin hingga ia dinilai benar-benar berubah.

Guru BK bilang (siapa ya namanya? Kenapa gak nanya kemarin ya?😰) bibit kekerasan, apalagi di sekolah harus diputus mata rantainya.  Jangan sampai terwariskan pada adik kelas.

Kan ada tu, abang kelas membully adik kelas , tidak dilaporkan , karena takut diancam , akibatnya kegiatan itu terus terjadi hingga seolah menjadi tradisi .

Orangtua dan guru harus bekerjasama. Anak-anak harus terus diperhatikan perkembangannya tapi  tanpa mereka sadari kalau  kita sedang mengawasi (jangan over protektiflah, Mak. Sayangnya kadang-kadang orangtua malah justru jadi paranoid. Ke sana tak boleh , kesini dilarang, melakukan sesuatu dicurigai, dan bentuk kekhawatiran lainnya. Akibatnya mereka tidak berani berekspresi.

Dibebaskan tanpa kendali pun jangan sampai terjadilah. Semua disesuaikan aturan dan usianya.
Apalagi ancaman narkoba,yakan?

Guru BK bilang, “ Anak sekarang tau itu bong, saya saja kalau tak dikasi tau mereka tak tau benda apa itu... “ (si Bapak kurang piknik bacaannya 😁

“Satu lagi Buk, buka chat sosmed orangtu , ngeri kali bahasanya ah...”

Wohoho... memang iya. Kita orang Medan aja jiper bacanya hadeeh.. 😭
*cek akun anak-anak...

Endingnya semua saling bermaafan, emak-emaknya juga, tapi kenapa lupa selfih ya?  *eehh... 😁

Minggu, 15 Januari 2017

Menghadiri Undangan Mantan Boss yang Sudah Pensiun

                            Demi foto ini, kami kekenyangan 😪😪


Lucu kurasa hari Sabtu kemaren . Kalau diingat bikin malu, senyum sendiri. Macam tak punya rasa kenyang kami. duduk lama-lama di meja. Bukan karena silap nengok hidangan tapi rencana pulang terhalang dua persoalan. 😁

Masuk gedung sejak pukul satu- an tapi berhasil sukses keluar pas sudah lewat Ashar. Ngapain cobak selama itu di dalam?

Ceritanya gini...

Suami bikin janji dengan tiga keluarga sahabat kami untuk datang ke pestanya mantan boss zaman masih muda dulu. Para suami kan pernah satu divisi yang dibawahi oleh pak Joni, namanya. Tapi tak bisa datang serentak  karena rumah kami berjauhan.

Start dari rumah jam 10.15 karena ada urusan singgah ke sekolah si bungsu, SMPN 7. Ada masalah sikitlah, hari Jumat dia dipukul kawannya di bagian kepala. Jadi aku mau ajak bincang wali kelas, guru BK sekaligus anak yang sudah terkenal sok jagoan di kelas.

Sayangnya wali kelas sakit, anak itu tidak masuk, guru BK juga tak datang. Kenapalah bisa sama-sama gitu,padahal sakitnya taklah janjian.  Senin diminta datang lagi sama wali kelas.

Karena acara diskusi tak jadi, kami kecepatanlah datang ke gedung. Ngapain, yakan? Mutar-mutar santai nyari mesjid, sambil nunggu yang lain. Selesai sholat masih sempat beli jambu biji, jalanku pun selow kali, tak seperti biasa srat-sret.

Eng ing eng..masuk gedung...

Si bapak boss senang kali lihat     teman-temannya datang. Mungkin teringat kisah mereka makan-makan. Si boss memang hobi nraktir anak buahnya makan-makan, senang berburu kuliner, sampe ada anekdot di kalangan mereka, “Pak boss dimarahi bininya kalau satu hari tak abis satu juta buat jajan." Hahahaha ... ada-ada aja.

Para suami bergabung, aku dan satu teman menjelajah menu . Jalan sana-sini, test semuanya.
Nelpon satu teman yang belum muncul jugak(si rusuh 😜) padahal seberapa muat perut mau diajak nyicipin semua menu.
Akhirnya ngobrol ,  tapi suara dendang lagu lama buat tak sedap bicara, lebih enak dengarkan lagu saja. Tapi bosan juga...

Nelpon kawan yang belom sampe itu. Enak kali dia jawab,”Alah udah makan lagi, pak Joni pesta cuma sekali, kan anaknya tunggal?” Dasar si rusuh,  wkwkwk...
Tak lama dia muncul...

Makan lageee.... Hahahaha

Akhirnya gerombolan suami ngajak pulang juga. Kami berduyun-duyun mau pamitan.

Padahal sama nyonya sudah cipika-cipiki, ibu-ibunya sudah foto, tukar souvenir , terus keluar sampai parkiran , tapi bapak-bapaknya tak kelihatan batang hidungnya.
Maksudnya apa?!
Nyangkut di mana?
Apa foto-foto manja jugak?! Hah...?😂

                            Sesi foto pun udah


Di parkiran kutelepon Kakang Honey.
“Belom boleh pulang, ngawani pak Jon, sampe tutup.”

Apaaa....?
Jadi cemana?
Kami udah pamitan, beserak di parkiran, mana hari panas lagi....

                                             Menunggu


Tak mungkinlah menunggu tanpa ada kejelasan kapan berakhirnya. Kami balek lagi dari pintu samping wkwkwk. Dan krucil makan lageee hahahaha..

Pak boss rupanya ingin foto rame-rame sama anak buahnya dulu. Itulah sebab kenapa tak boleh pulang cepat. Disuruhnya bolak-balek makan. Dia mau melayani tamu-tamu sebaya dulu, yang formal-formal dulu, baru kawan-kawan zaman dulu hahahaha...

Baiklah pak, selamat punya mantu... ..

#statusmamakMedan 

Selasa, 10 Januari 2017

Berburu Wifi Gratis



Kami datang ke resto itu memang dengan rasa lapar. Pasangan pernah muda (baca : aku dan suami) sengaja menyasar menu makanannya. Khusus menikmati kopi, aneka mie dan camilan lainnya. Berdua saja, tanpa anak-anak. Mereka tidak lagi mau diajak kongkow bareng remaja usia tua seperti kami. 

Datanglah pelayan, menawarkan menu. Pilih-pilih makanan, pesan, lalu menunggu hidangan datang. Sudah bukan hal yang anehlah kalau zaman sekarang ini saat menunggu sesuatu dimanfaatkan dengan otak-atik gadget. Begitupun dengan kami, tapi saat itu aku memilih untuk mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Henpon kuanggurkan sesaat, mau lihat yang lucu-lucu :D

Nyaris kursi-kursi yang tersedia diduduki oleh anak-anak muda. Paling usianya belasan, kalaupun lebih yah paling-paling tidak sampai tiga puluhanlah. Etapi kami santai saja, biarpun ada yang sekilas melirik, barangkali heran ya, nih senior ngapain di sini? Wkwkwk….

Sambil menunggu itu, kuamati rata-rata dari mereka memandangi sebuah leptop. Mungkin sedang mengerjakan tugas sekolah, download lagu, main game online atau entah apalah, tapi yang jelas nongkrong di sini karena wifi gretongnya, begitulah pendapatku setidaknya…
                                                           Serius....




Makanan datang, aromanya menguar, perut bertambah lapar, hajaaarrr….
                                                           Ini baru laparrrr...


Kami ciak-ciak serius loh, Mak..srat sret, tang-ting, palingan butuh waktu lima belas menit, semuanya sudah berpindah wadah. Meskipun ini tempat kongkow, tapi rasanya tidak asyik membiarkan mie sampai mendingin kan? Baru sesudah itu, bolehlah kita santai-santai, yang penting tujuan utama sudah kelar hahaha…

Ngomong-ngomong, kenapa anak-anak muda itu sedari tadi nganggurin minuman di hadapan mereka ya? Dua pemuda yang duduk di depan kami minumannya belum sampai setengah kurangnya. Samping juga begitu…malah yang di pojokan ada yang tertidur. Kata suami, kalau laptopnya diambil orang mungkin tidak akan sadar, nyenyak banget sih memang. Dan kami jatuh kasihan melihatnya, mungkin dia lelah, butuh mimpi…
                                                  Ada yang lelah..


Melihat posisi anteng mereka dengan hanya berbekal segelas minuman, aku jadi geli membaca beberapa tulisan di dinding yang berisi pesan macam-macam. Yang tidak boleh bawa makanan luarlah, meja tidak boleh berisi lebih dari empat oranglah, dan macam-macam lagi. Pesan-pesan itu sering berganti-ganti tema, kami sudah beberapa kali kemari, jadi tahu ada  yang berubah :P

Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, pemilik resto harus siap mangkel kalau ada yang cuma berbekal satu gelas jus atau minuman dan pulangnya nyaris saat jam tutup. Mau komplain? Apa berani tanggung resiko dikacangin anak-anak muda? Secara mereka itu geraknya di sosial media sangat aktif kan? Satu kali ngetwit bakalan anjlok rating sebagai tempat nongkrong kesayangan. Begitu pun sebaliknya, jika wifinya kenceng dijamin jadi rekomendasi tempat ngumpul idaman.

Fenomena berburu wifi gratis ini bukan saja di tempat nongkrong anak muda kan? Kalau check- in hotel yang pertama kali ditanya password wifinya. Masuk ke sebuah resto juga nanya password. Jangan harap sebuah tempat nongkrong anak muda, seberapa kerennya pun, tanpa wifi gratis akan ramai pengunjungnya. Kecuali resto tersebut makanannya punya level enak yang di atas rata-rata, yang pengunjungnya sampai nunggu nomor antrian demi mendapatkan meja, nah ini baru orang datang memang pure karena kulinernya. Kalau yang rasa makanannya biasa-biasa saja, tapi anak-anak muda betah duduk berlama-lama, tak ayal lagi, karena wifinya kenceng…hahaha…curiga saya..
                                                Modal segelas minuman....


Anak-anak yang duduk di sini rata-rata seusia anak kami yang sulung. Di tempat kostnya, wifinya kenceng, jadi urusan internetan untuk mengerjakan tugas dijamin aman. Zaman sekarang kost-kostan buat anak kuliahan/ sekolah tanpa wifi? Sepertinya akan menjadi pilihan terakhir buat mereka, itu pun sudah sangat terpaksa sekali karena di tempat lain sudah penuh.

Zaman sekarang, begitu urgentnya internet buat kita. Sehari tanpa internet berasa hidup di zaman pra sejarah. Berbagai aplikasi yang memudahkan mobilitas kita sudah banyak tersedia, kita tidak mau turut ambil bagian di dalamnya? Ya silahkan saja, masih bisa kok. Cuma kalau ada yang memudahkan mengapa tidak kita manfaatkan? Asalkan internet dipakai untuk tujuan positif pasti bermanfaat kan, Mak? 




Kamis, 05 Januari 2017

Trauma Kemalingan




Mak, sebenarnya aku sudah bisa move on dari bayangan rasa takut sosok pencuri yang memasuki rumah. Horornya sih tidak serupa dengan film misteri, tapi semacam lintasan pikiran kalau pencuri itu masih berada di sekitar kita. Udah nonton rekaman CCTV kasus perampokan di Pulomas kan ya? Ya lebih kurang begitulah settingan di pikiranku pada waktu itu.



Alhamdulillahnya Mak, pas kejadian kami tidak berada di rumah, jali-jali ke Brastagi, nyari udara dingin, sejenak meninggalkan gerahnya Marelan. Dua leptop raib Mak, celengan si bungsu juga diembat, isinya masih 150 ribu untungnya. Syukurnya peralatan dapur seperti kompor, wajan, magic com, gak ikutan digotong, xixixi… Enggak punya barang berharga lain Mak, suami dan anak kan dibawa..:D

Tapi Mak, lima hari yang lalu, salah satu kerabat dekat ngabarin kalau kejadian yang sama terjadi padanya. Ya kasusnya sama, saat kejadian rumah sedang tidak berpenghuni. Tak ada satupun penghuni terakhir yang mau tinggal, cos sedang ngumpul di salah satu keluarga, kan taun baru waktu itu, ngisi holide kayaknya. 

Pergi siang, pulangnya malam, gak nginep padahal, ya tapi kan rumah gelap-gelapan sesaat sesudah turun malam? Naah…diduga maling beraksi di saat magrib menjelang. Waktu magrib tuh jarang orang berkeliaran di luar rumah kan Mak? Maling yang gak mau ke masjid mencari-cari rumah yang tidak berpenghuni pastinya. 

Si adik yang baru kemalingan itu, kita panggil Bunga saja ya, takut untuk memejamkan mata, perasaannya si maling masih ada di sekitaran. Bunga was-was, kalau sampai ketiduran tiba-tiba maling menggunakan kesempatan untuk beraksi, duhh…gak enak memang terteror begini.
Pulang melihat rumah berantakan, jendela teralisnya copot, pintu terbuka, lemari-lemari pintunya pada somplak, coba bayangkan Mak sakitnya hati. Daripada  rasa kehilangan barang, perasaanku lebih kepada geram dan jengkel. Ada orang asing yang memasuki rumah kita tanpa izin, memasuki kamar, mengobrak-abrik segala penjuru pribadi, benar-benar tidak sopan, kan? Enaknya diapain coba manusia seperti itu kalau kita bisa menangkap langsung pelakunya? Digelitikin sampe lemas rasanya masih kurang pas untuk meluapkan rasa marah. Maka tak aneh kalau ada yang kalap sampai berlaku sadis pada maling yang tertangkap basah. Coba kalau dia yang tertangkap tangan oleh kita, nyawa orang yang akan dijadikan korban pun tega dihabisi.

Waktu itu Mak, kalau lihat sudut-sudut rumah, dalam hati aku bilang begini,”Ih, entah siapa itu pernah masuk ke sini, pegang ini, pegang itu…”. Sakiiiit…rasanya hati ini Mak.






Syukur punya suami tenang dan menenangkan. Kalimat-kalimat ademnya bisa membuatku cepat sadar, bahwa tidak ada gunanya untuk marah dan uring-uringan. Semua hal bisa terjadi, kehilangan kami tidak ada apa-apanya dibanding bila kami yang tersakiti secara fisik, andai kami berada di rumah. 

Ada tetangga yang bertanya kenapa tidak lapor polisi saja? 

Bukan tidak mau melapor Mak, juga bukan takut. Terpikir juga, sebaiknya tindakan itu jangan dibiarkan agar tidak terulang pada yang lainnya. Tapi Mak, menyaksikan sendiri beberapa kasus yang sudah dilaporkan kepada pihak berwenang, sampai saat ini tidak ada hasilnya. Waktu tersita, pikiran berputar ke itu-itu terus dan dana yang dikeluarkan untuk biaya akomodasi rasanya juga tidak sedikit. Belum lagi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang itu ke itu terus pastinya. Bukannya beres, waktu malah terbuang sia-sia. 

Lelaaaahhh….

Satu lagi sih yang jadi pertimbangan, waktu kami pergi, rumah diititipkan pada anak tetangga yang sudah seperti sodara, pas kejadian dia sedang kuliah sore, kalau dilaporkan kemungkinsn besar dia akan dicurigai. Kasihanlah, sudah kita minta tolong malah nanti dia yang disalahkan.
Akhirnya kami cuekin saja, tapi berdoa semoga Allah memberikan pelajaran sendiri pada si maling tak sopan yang entah siapa itu. Aku yakin, kapan dan di mana pasti dia akan mendapatkan buah dari perbuatannya sendiri. Penghasilan tidak halal digunakan untuk membiayai hidup?

 “Hati-hati woii, hukuman dari Allah itu pedih…”

Mak, andai itu terjadi, sudah ikhlaskan, insya Allah gantinya lebih membahagiakan.
Note : 

-          - Saat bepergian jangan tinggalkan barang berharga di rumah, jika takut tercecer titipkan pada orang  yang kita percayai.  
  
-          -Jika ditaksir pulang hingga malam hari, sebaiknya minta tolong tetangga terdekat untuk menyalakan lampu.


Senin, 02 Januari 2017

Menulislah Senyamannya....

   


              Mengisi blog pun bisa kehabisan ide? Bisalah... 😁





Gemeeeesss... dari kemarin kok ide melayang-layang terus. Sejatinya ingin segera mengeksekusi ke dalam tulisan, lah tangan diajak ngetik banyak alasan melulu. Tangan atau mood yang kedodoran ya? Kenapa jadi nyalahin tangan sih? Pas bener dengan kata-kata yang sering kukatakan pada si bungsu  saat dia ngeles buat tidur siang.

“Gak ngantuk loh, Ma. Gak mau tidur...."

Oke... tidak ngantuk. Tapi saat dia dengan alasan rileks sepulang sekolah, ingin nonton si Bolang, tau-tau televisi yang nonton dia?hihihi . . .

“Bang, mata dengan mulut itu tidak bisa kompromi loh. Mulut bilang enggak ngantuk, tapi mata merem, gak bisa diajak kompak , ya kan?”

Bungsu pasti bersungut-sungut kalau sudah ketahuan ketiduran.

Samakan?
Otak menyampaikan pesan ada ide yang bisa dijadikan tulisan . Eh si tangan tidak juga digerakkan untuk segera menulis. Alhasil semua menguap begitu saja, lalu mencari ide lain, begitu terus, waktu sudah terlewat, hari pun sudah berganti . Nol, satu artikel pun tidak ada yang dihasilkan . . .


Mengapa bisa tidak ada ide menulis?

Mungkin teman-teman lancar saja ya ide menulisnya, apapun bisa dijadikan bahan tulisan. Kalau saya moodnya sering bubar, menunda waktu, merasa ide itu akan bertahan, nanti saja menulisnya. Padahal... disamping banyak pekerjaan domestik ala emak-emak, seharusnya tahu diri bahwa daya ingat itu sudah melemah.
Seharusnya ketika ada ide langsung ketik atau tulis beberapa kalimat pengingat. Jangan sok-sokan merasa bisa memelihara kesegaran ide..(elus-elus jidat....).

Blog saya itu sebenarnya diary loh , harusnya banyak kejadian yang bisa ditulis, kan? Tapi maunya saya tulisannya itu ada bau-bau infonyalah. Terus kalau ada yang sowan bisa mendapatkan sesuatu untuk dikenang, ciee.... Minimal bisa senyum-senyumlah gitu...

Mak, saat mood melemah rupanya bagus kalau dibawa baca-baca. Sebagian orang mungkin nyari inspirasi bisa lewat jalan-jalan, mendengarkan atau apalah senyamannya. Tapi tadi, daku dapat ide lewat baca status teman fesbuk.
Dia penulis produktif, bisa menghasilkan sebuah cerpen dengan sekali duduk, diawali sebuah kalimat asal-asalan dulu malah. Baru kalau sudah mengalir, kalimat-kalimat yang kurang bagus diedit lagi menjadi sebuah karya indah. Keren kan?


                          Cari ide bisa dengan membaca 😍


Nah. ..tulisan ini saya buat justru memanfaatkan ketiadaan ide tadi (haiss sok!! Wkwkwk) Tadi diawali dengan kalimat asal, dan meski lambat mengalir juga (maksa..) 😁

Mak , masing-masing orang pasti punya cara dalam menjaring ide ya? Seorang penulis terkenal sekali pun pernah mengalami writer's block. Jadi ya manusiawi sekalilah kalau saya yang cuma menulis diary ini kena block tiap hari...(ngeless . . ) Jadi saya ingin menulis senyamannya dan dengan riset sebisanya . Kalau dibaca enak dan informatif , Alhamdulillah.... Kalau ternyata garing dan nyebelin,  mau dikata apa coba? Pasrah... 😥😥


Mak, udah dulu sebagai pembuka tahun 2017 ini ya?
Sebenarnya ada banyak resolusi, tapi saya mau simpan dalam hati dululah . Entah mengapa, malu buat menuliskannya, secara daku ini sering kena angin-anginan Mak.
Semoga tahun ini dan selanjutnya diberi kemudahan dalam mencapai resolusi dalam hati, hehehe...
Semangat!!!


*gambar-gambar diambil dari Google 

Jumat, 30 Desember 2016

Antara Enak, Pelayanannya Oke dan Kebersihan



Entahlah Mak, kalau singgah makan di sini rasa-rasanya merasa terintimidasi, berasa horor gitu , apalagi ketika bayar ke kasir hahahaha...

Tapi kacaunya Mak, doi pula yang jaga kasirnya. Beberapa kali kemari belum pernah mendapatkan senyumannya, konon lagi ucapan terima kasih kepada pelanggan. Jauh Mak... jauuuhhhh....simpan saja mimpi manis ini wkwkwk...

Tahu enggak Mak, kalau berdiri di depannya cuma bisa melihat tangan si kakek mencet-mencet tombol kalkulator. Berdiri manis sambil menunggu belio nyebutin jumlah biaya yang harus kubayarkan. Tak berani mencoba beramah tamah seperti kebiasaanku kalau bertemu orang baru, asli Maaak...nyali ciut dibantai si kakek.


Takut?
Enggak sih Mak, cuma segan buat menasihati hahahaha (hellow...siapa kamu Bu?).

Kalau secara hukum pelayanan terhadap pelanggan, jelas si kakek sikapnya salah besaaaarlah. Apalagi bagi pebisnis pemula yang kudu bersakit-sakitan menjaring pelanggan. Lupakan deh.... lupakan...

Lalu mengapa orang bersedia datang berulangkali, bahkan sebelum buka sudah mengantri? Kuat dugaanku pada rasa makanan yang mereka sajikan. Jadi memang benar, lidah gak bisa bohong, yang bohong yang punya lidah hahahaha...

Kakek mahal senyum ini bisa kita temui kalau berkunjung ke warung Tenda Biru , yang beralamat di Jl.Yos Sudarso 9F Glugur Kota . Bolak-balik dicuekin begini tetap saja sering kemari untuk menikmati lontong dan nasi lemaknya, hihihi . . .Untungnya Mak , pelayannya lumayan ramah dan sangat cekatan melayani pembeli . Satu lagi yang bikin balik lagi , tempatnya bersih Mak...

Sebelum booming lontong malam, warung Tenda Biru sudah memelopori menjual lontong sayur  di malam hari. Kalau di Medan, lazimnya dulu lontong sayur tuh buat sarapan Mak. Makin ke sini, lontong sayur sudah bukan lagi menu untuk sarapan, beralih menjadi menu alternatif buat makan malam yang tidak terlalu berat.

Warung Tenda Biru hanya menyajikan lontong sayur , nasi lemak dan nasi putih saja. Yang menjadi istimewa adalah rasa kuah sayur, sambal dan serundengnya. Jika ditemukan ke dalam piring penyajian, rasa kuah medok dan kental menjadi paduan yang pas di lidah orang Medan yang menyukai makanan pedas.


Soal lauk sih biasa saja,seperti ikan goreng, ayam goreng , rendang, sambal telur, perkedel dan renang jengkol, sate kerang juga ada.

Sejak dulu warung Tenda Biru hanya menyajikan menu di atas. Beda dengan warung makan lain yang menyajikan aneka mie dan menu tambahan lainnya. Jadi spesial karena memiliki ciri khas khusus menyasar menu sarapan.



Mak , kalau diadakan polling nih ya , pilih mana, rasa makanan enak tapi pelayanannya jutek, atau makanannya biasa-biasa saja (ingin bilang tidak enak saja kok susah , ya?) tapi pelayanannya menyenangkan alias ramah?

Maunya sih kombinasi dari keduanya ya? Dan banyak kok tempat makan yang memiliki perpaduaan ketiganya, enak, pelayanannya oke dan bersih.

Tapi kalau untuk pilihan di atas, aku memilih yang pertama. Kita kan datang ke suatu tempat makan memang untuk mengisi perut? Sementara, meskipun tempatnya homi, full of wifi, tapi begitu menyicipi makanan langsung hilang selera makan, bagaimana? Biasanya tempat seperti ini tidak membuat pengunjung balik lagi.

Namun di kalangan anak-anak muda biasanya mereka berburu wifi gratis. Tahu kan apa yang mereka pesan Mak? Minum doang ...hahaha....

Jadi karena kadang tidak menemukan kombinasi pas antara enak , pelayanan oke serta bersih, maka cukup dua saja sudah membuat orang-orang kembali,  yaitu enak dan bersih.

*foto berasal dari koleksi pribadi dan diambil dari Google 

Kamis, 29 Desember 2016

Bisakah Menjadi Tetangga yang Menyenangkan?

Mak, pernah bingung enggak sih kalau punya tetangga baru tapi susah ditemui? Padahal ketika dalam tahap pembangunan, mereka ruaamah sekali sikapnya? Kadang-kadang jadi terpikir, apakah kami telah salah bersikap? 😩

Sempat kegirangan karena bakalan punya tetangga ramah badai begitu, akhirnya kecewa karena rumah yang persis bersebelahan dengan kami itu seolah tak berpenghuni.
Sebagai rumah yang paling bersebelahan pas , enggak enak sekali rasanya kalau ditanya-tanya tentang saudara baru ini . Ada yang nanya nama , berapa anaknya , kerja di mana? Ya pertanyaan-pertanyaan wajar dan standarlah .

Ini bukan kepo loh ya , andai dianggap kepo juga tidak apa-apa jika itu pertanda sayang dan perduli. Ada kegiatan positif yang bisa kami tawarkan buat belio sebenarnya . Misalnya mau ngajakin wirid silaturrahmi emak-emak setiap Jumat , atau ngaji rutin setiap Kamis. Atau kalau mau yang kekinian kadang salah satu dari kami ngundang ngeteh atau ngopi cantik xixixi . . . 😁 😁

Apa daku kurang usaha ya Mak?

Rasanya sudah lo..

Keliling pagar manggil-manggil buat silaturrahmi tidak ada sahutan udah pernah terjadi .  Just silaturrahmi loh Mak, bukan ngerumpi. Walaupun emak-emak tuh punya bakat sejak orok perihal rerumpian, tapi ya enggak bangetlah ajak-ajak ngerumpi orang baru...dosa ya kan Maks?
Emak-emak keceh mana sempat  nenangga . Kita tuh harus punya rem yang super pakem ya,mending nyetrika segambreng deh . . Hahahaha . . .

Nelpon?

Ih sudah lo, kan sewaktu perkenalan perdana dulu, kami sudah pernah tukaran nomor henpon. Tapi bayangkan sedihnya Maks, sewaktu nelpon hingga tiga kali enggak diangkat , terus dia sms nanya, “Ini siapa, ya?”Hiks...(aku tuh gak bisa diginiiiinnn...).Tapi bisa jadi lupa ngesave kali ya...? Be positive thinking ajalah . . . . 😍😍

Di gang Seroja ini ya Mak orangnya baik-baik...Emak-emaknya ramah-ramah, suka berbagi dan suka menolong. Kalau ada yang punya hajatan, satu gang pasti kebagian bontot nasi. Ada yang sakit segera dijenguk, tetangga kemalangan segera dikunjungi. Kalau ada tetangga yang bikin acara kenduri bersedia jadi tim sukses dengan  gembira ria. Jadi memang niat hati itu pure mau membina tali kasih, tidak ada yang lain... ✌✌


Pernah di suatu senja yang temaram , segerombolan gadis-gadis cilik dari gang kami mau anter bontot nasi, lah ya gak kebagian jadinya, jangankan melihat penampakan penghuni rumah, wong cuma kesunyian yang melanda, tak terdeteksi sinyal-sinyal kehidupan, hahahaha.... *apa siiiih? 😜😜

Mak, sebenarnya bagaimana sih ya sikap kita selaku warga baru dan penduduk lama? Mari kita tinjau beberapa kiat-kiat cantik dari dua sudut pandang ini. Tidak hanya warga baru saja yang sebaiknya memperkenalkan diri, penduduk lama juga harus mencoba membuka diri agar hubungan selanjutnya menjadi menyenangkan.

Warga yang baru pindah hendaknya melakukan hal ini :

-Melaporkan kepindahan  kita kepada kepala lingkungan, ketua RT atau ketua RW.
-Bertegur sapa kepada penduduk setempat .
-Mengantarkan makanan kepada tetangga sebagai salam perkenalan.
-Masuk sebagai anggota majlis taklim atau komunitas bermanfaat. lainnya.
-Bersikap ramah dan menyenangkan terhadap anak-anak.
-Tanyakan kebiasaan baik yang sudah menjadi rutinitas di lingkungan kita .

Warga yang sudah tinggal lama  sebaiknya...

-Jangan sungkan untuk memulai komunikasi .
-Tawarkan bantuan yang mungkin mereka butuhkan.
-Berikan hadiah atau masakan sebagai ucapan selamat datang .
-Tunjukkan pada mereka bahwa kita bisa menjadi tetangga yang menyenangkan .


Mak, alangkah sangat menyenangkan jika silaturrahmi dengan tetangga bisa terjalin erat . Tanpa menilai kita siapa dan apa yang kita punya . Jika kita sudah memilih tinggal di suatu tempat, maka mau tak mau kita harus bisa bersosialisasi dengan penduduk setempat. Istilahnya, di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.
Seberapa hebat pergaulan kita dengan orang-orang berpangaruh misalnya , tetap saja ketika terjadi sesuatu hal tetangga terdekatlah yang pertama sekali menjenguk kita .

Mak , hal-hal di atas tentu saja tetap mengedepankan 'pergaulan yang benar'. Jika dirasa lingkungan dan komunitas yang ada berpotensi merusak, sebaiknya putuskan untuk mencari solusi baru yang lebih baik.

 
Diary Omak-Omak Medan Blogger Template by Ipietoon Blogger Template