Rabu, 01 Februari 2017

Pilih Mana, Karpet atau Tikar Rotan?


Pernah punya pengalaman dengan karpet bulu yang baunya apek gak ketulungan, Mak? Atau yang menyerupai bau kotoran kucing bersebab kena tumpahan air? Aduh kalau itu amit-amit ya keselnya?

Sejak punya anak kedua , aku beralih ke tikar rotan,Mak. Udah lamalah itu, dua belasan tahun yang lalu. Tapi sewaktu di rumah ada acara wiridan ibu-ibu (seperti majlis taklim gitu) karpet sak nyumlik yang ikut kugelar mungkin ketumpahan air. Akibatnya,  garasi yang merangkap sebagai gudang itu berbau gak jelas . Seperti bau bangkai cicak , bau kotoran kucing , bau apek , ah entahlah . .

Hampir satu minggu aku dan kakak yang bantu-bantu, bebersih rumah dibuat bingung mencari asalnya bau. Bongkar sana-sini , menajamkan penciuman , memeriksa segala penjuru . Sampai akhirnya menyerah sebab sumber bau tidak kunjung kelihatan .

Hingga tanpa sengaja aku menggeser gulungan karpet ukuran 1,5 x 2m yang berdiri manja di pojokan . Daaan . . . terungkaplah misteri berhari-hari ini .
***
Dulunya karpet mungil ini kuletakkan di bawah meja ruang tamu .Tapi karena berpotensi menyimpan debu , akhirnya kugulung dan kusimpan saja di garasi . Dua karpet berukuran besar tidak sering kupakai , kalau kedatangan banyak tamu baru kugelar.

Untuk sehari-hari aku lebih suka pakai tikar berbahan alami dari rotan. Perawatannya mudah, tidak menyimpan debu dan gampang sekali dibersihkan. Satu lagi tidak perlu dibawa ke jasa cuci karpet segala. Aku bisa leluasa membersihkannya sendiri,

Kalau cara yang kupakai sih standar saja, menyemprot dengan air kran, menggosoknya dengan spon lembut yang sudah diberi cairan sabun, kemudian dibilas, selesai deh. Lalu dijemur, aku kuat mengangkatnya sendiri, karena memang tidak menyimpan air jadi tidak berat. Tikar rotan juga bisa dijemur di tali jemuran biasa, yakan?

Ada cara lain untuk membersihkannya.:

Campur segenggam garam dalam air hangat, ya takaran airnya disesuaikan Mak,kira-kira bisa membasuh seluruh permukaan tikar tentunya . Kalau garamnya , cobalah dirasa-rasa , asinnya sudah pas apa belum? (lah ini tips mencuci tikar apa masak ya? * aneh . . ) 😱😱

Untuk membilasnya gunakan air dingin. Jemur di terik matahari hingga benar-benar kering. Kalau masih lembab bisa berbau tidak sedap nantinya.

Tikar berbahan alami tidak mengandung zat yang berbahaya bagi lingkungan. Selain itu karena memiliki sirkulasi udara berupa pori-pori maka keringat atau cairan lain bisa keluar. melalui celahnya.

Mak , meski tikar tidak digunakan , sering-seringlah dijemur. Jangan menggelarnya terlalu lama karena permukaan lantai kan lembab. Jika hendak menyimpan bungkuslah ujung tikar dengan plastik,untuk menghidari masuknya serangga .

Tapi Mak, tikar berbahan alami memang ornamennya kurang berseni ya? Beda dengan karpet, meskipun secara fungsi keduanya sama saja .Harganya juga tidak jauh beda.

Selain berkesan mewah, karpet juga memiliki motif beragam, mulai dari corak tumbuhan, hewan, kotak , lingkaran dan bentuk unik lainnya. Kalau emak-emak kan suka yang genjreng-gejreng gimanalah gitu . . . . 😁



Karena keindahannya itu orang-orang mau bersusah payah berberat-berat ria untuk merawatnya . Jasa pencucian karpet pun mudah ditemui. Kalau di Medan, hampir setiap doorsmer merangkap cuci karpet. Harganya kisaran 50K / karpet.

Jika karpet kita gunakan sehari-hari , apalagi yang masih memiliki balita, tentu harus ekstra rajin membersihkannya. Sebab debu dan bau tidak sedap akibat ketumpahan cairan bisa mengundang penyakit, apalagi bagi yang memiliki riwayat alergi.

Berikut ada beberapa cara membersihkan karpet yang mudah tanpa bolak-balik ke jasa pencucian karpet. Emakbisa melakukannya dengan cepat .

- Gunakan penyedot debu, tapi sebelumnya letakkan  kain tipis berserat jarang di atas karpet. Gunanya agar saat proses penyedotan tidak merusak bulu. Sayang kan Mak  kalau karpet berbulunya jadi gak empuk lagi?

- Untuk membersihkan noda bisa digunakan bahan pembersih buatan sendiri dari campuran cuka , detergen dan air hangat.

- Jika karpet berbau tidak sedap seperti bau hewan peliharaan, rokok dll, taburilah permukaan karpet dengan bedak bayi. Diamkan sekitar 12 jam, lalu bersihkan dengan mesin penghisap debu.

Mudah kan Mak?

Jangan malas membersihkan karpet Mak. Jangan sampai keindahannya berkurang karena bau tidak sedap.
Selamat mencoba... 

Selasa, 24 Januari 2017

Emak-emak dan Maticnya



Padahal bobot tubuhku bukannya yang kurus-kurus amatlah . Wong masih berpikir untuk mengembalikan ke postur ideal, emm..paling gak ya mendekatilah. Makanya paling males nimbang badan. Timbangan  standby di dapur loh, kuletakkan di sebelah kulkas, buat jaga-jaga, ngingetin diri kalau pas bawaan mau makan terus, lirik timbangan di samping meja makan, whahaha.... Tapi sering gagal, gas poll..😪😪

Tapi yaitu ...aku selalu gak mampu untuk ngengkol motor . Ngerti kan ngengkol? Di Medan ngengkol itu maksudnya menyalakan mesin motor tanpa menghidupkan tombol 'start', manual kayak dulu, zamannya motor matic belom beserak.

Aku itu sudah hampir setahun pensiun jadi Mak gojek . Semenjak si bungsu menolak dianter jeput. Sudah besar katanya, enakan ngangkot rame-rame sama kawan-kawan. Otomatis motor mangkrak di rumah.

Alhamdulillah cuma punya satu , coba kalau segarasi , apa gak bisa buka showroom sekalian? Paling dibawa bolak-balik mesjid sama Kakang Honey. Selebihnya seminggu sekali ke warung tetangga buat belanja dapur. Kalau keluar pun gak jauh-jauh, palingan seputaran beli keperluan.

Eh kalau di Medan menyebut sepeda motor itu kereta atau honda...😁😁

Jadi gitulah, motor pas mau dimasukin garasi kok ngambeg Tiba-tiba menolak start, yang bikin sebel itu moment ngengkol. Belum apa-apa ya akuh langsung ilfill, bakalan rusak badan, pegel-pegel udah pastinya hahahaha...

Ya benar saja, kemarin malam aku sukses gak bisa ngengkol. Dengan terpaksa motor kusorong menuju garasi. Gak masalah sih nyorong, tapi mikirin besok mau dibawa ke bengkel mau tak mau mesti ngengkol juga. Jarak bengkel dan rumah lumayan bikin semaputlah kalau motornya disorong. Mana suami kerja lagi....

Pagi-pagi mulai beraksi....

Sulung untungnya masih di rumah, belom balik ke Semarang, masih libur kuliah. Tadi malam suami merekomendasikan si Sulung untuk ngengkol, selama ini, meski dia bertubuh langsing tapi tenaga jangan diragukan. Gadisku ini memang kuat tenaganya, mungkin karena masih muda ya?

Berdua kami bekerjasama memanaskan motor yang kalau kata suami mungkin bermasalah dengan batre /akinya. Perlu waktu bermenit, karena sulung kan belum pernah ngengkol juga.  Belajar mengendarai motor ya yang dipakai jenis matic.

Sampe bengkel laporan sama resepsionis, gak tanggung-tanggung , selain servis mesin dan rutin ganti oli , mohon untuk dicek spedometernya, rem , klakson dan akinya. Padahal aku rutin servis lo, tapi biarin, mumpung sedang di bengkel. 😜😜

Rasanya geli sendiri Mak, berasa baperan. Pas ketemu sama psikiater langsung curhat segala-gala. Tapi aku gak salah kan ya, daripada bolak-balik?

Lalu duduk di ruang tunggu yang letaknya pas bener sama work shopnya. Aroma oli menyengat, tapi aku senang lo Mak bau oli. Aneh gak sih ini? Makanya dilarang tu kan mencium bau bensin dan sejenis pada jarak dekat? Selain bisa kecanduan ya tidak bagus kan untuk kesehatan?

Ampuuunlah tadi itu di work shop...😵😵

Montirnya semangat 45 nggeber knalpot. Bukan salahnya sih , memang harus begitu kan? Tapi kurasa letak ruang tunggu ini yang kurang pas. Gada penghalang suara samasekali. Di ruang tunggu ada televisinya, tapi apa gunanya coba...

Tadi itu bersamaan dengan dua bapak, satunya sebaya denganku , satunya lagi sudah tua . Serius sekali mantengin berita sidang Ahok,  ya gak kedengeranlah.Bapak yang tua ambil remote tv, dan volumenya dikencengin,  hahaha.. making seru, hingar bingar.

Aku kalem saja, merasa sudah tidak ada harapan mengikuti jalannya berita wkwkwk....

Ambil majalah di rak, lah kok isinya katalog Sophie Martin? Yang laennya majalah otomotif, alamak....

Montir yang nanganin motorku mendekat, menceritakan masalah yang diderita motorku . Total-total kenaknya daleeemm Mak... nyaris Rp. 400.000. Kalau buat sebuah sepeda motor kan lumayan tuh. Longok dompet...oii apa gak bisa kurang nih? Naluri emak-emak pengen nawar whahaha...

Ya sudahlah pasrah, memangnya bisa betulin sendiri apa?
Segera cek mbah Google, merasa gak rela, penasaran, rajin servis kok kerusakan menyamai benda purbakala tanpa perawatan ya?
Hasilnya ini, Mak, aku dapet linknya www.otojan.com,

Cara Merawat Aki Kering Agar Tahan Sampai 5 Tahun.

Cara Merawat Aki Kering
1.Panasi kendaraan tiap hari selama 5 – 10 menit
Memanasi motor tidak hanya bertujuan untuk membuat mesin motor awet tapi juga bisa membuat aki tetap stabil.

*Setiap hari dipanasi sih Mak , tapi kurasa gak sampe 10 menit .

2.Berkendara di atas kecepatan 60 km/jam selama 10 – 20 menit.
Hal ini bukan bertujuan untuk mengajak anda kebut – kebutan di jalan bukan, tapi bertujuan agar pengisian aki dapat berlangsung dengan arus listrik yang full bukan setengah – setengah. Berdasarkan pengamatan saya motor yang jarang di pakai / berjalan lambat akinya hanya mampu bertahan 1 tahun sedangkan motor yang sering digunakan jalan cepat akinya dapat bertahan hingga 5 tahun.

* Nah....kurasa inilah sebab utama aki motorku cepat soak .

3.Jangan menggunakan aksesoris tambahan
penggunaan aksesoris tambahan seperti lampu HID atau klakson besar akan menyerap arus listrik yang besar pula dan akhirnya akan memperpendek umur aki.

* Ini bukan aku banget, Mak . Motorku dari beli ya asli , kalau ada yang harus diganti pun belinya di bengkel resmi . Cupu banget kan? Hihihi . . . .

4. Jangan memaksakan electric starter bila motor sulit hidup
Idealnya menekan electrik starter adalah 5 detik. Apabila lebih dari 5 detik motor tidak mau nyala sebaiknya di hentikan dan tunggu jeda 5 detik lagi baru di pencet lagi tombol electric starter, karena electric starter sendiri menyerap arus listrik yang lumayan besar dari aki, jadi beri kesempatan aki untuk kembali stabil.

* Nah . . . Nah . . .sering nih, sering banget whahaha . . .

5. Periksa kabel terminal
sesekali periksa kabel  yang menghubungkan aki supaya terminal aki tetap pada kondisi bersih dan usahakan mur / baut aki dalam kondisi kencang. Hal ini bertujuan agar terminal aki tidak mudah keropos.

* Kalau ini saat servis ke bengkel.  Mana pula emak-emak kayak aku ini ngerti otomotif.

Mak, itulah tips merawat aki motor. Meskipun sudah pensiun jadi pembalap, jangan lupa tetap balap-balapan kayak tips no. 2 hahahaha...

Ups kidding Mak!! 😁😁

Rabu, 18 Januari 2017

Bibit Kekerasan jangan Dibiarkan



Bukannya marah, aku malah geli waktu mendengar percakapan mereka ini ..

Mamanya Zaki tidak bisa menahan kesal, maka bocah berpipi montok itu habis kena omel. 😁

“Aduh Deeek..kan udah Mama bilang, jangan suka berantem."

Si Zaki nengokin mamanya tanpa rasa gusar, muka kekanak-kanakannya bikin aku senyum-senyum.

“Tulah Pak, saya gak cocok sama pendapat papanya dan abangnya Kek ginilah, Zaki asik disuruh berani ngadepin orang. Selalu dibilang, 'Kau laki-laki, jangan nanges, jangan bawak air mata pulang. Lawan aja, jangan jadi pelor...” mama bicara penuh semangat .

“Sampe kata abangnya, ada barang apa lemparkan!"

“Jadi kalok luka?” Mama cerita bantahan Zaki.

“Lukak kan ada rumah saket, diobati.. Kek gitulah Pak ajaran orang tu.  Saya selalu bilang, ‘ Jangan ya Nak...gak boleh ‘”

Diskusi kami kemaren jauh dari marah-marah. Padahal bu Nurhayati Chaniago, yang anaknya juga kena pukul, kepalanya masih benjol sampe sekarang.

Mendengar kronologi mamanya Zaki bercerita, pola asuh yang tak sama antara Papa, Mama dan abangnya membuat si anak lebih memilih pro papa dan abang. Tidak lain biar diakui kelelakiannya.

Kata mamanya Zaki dulu anak yang manis, masa SD rajin mengaji, tahfiz, lomba busana dan kawannya banyak anak cewek.

Masuk SMP semua berubah,  dulu sholat tanpa diingatkan, sekarang disuruh pun susah. Dia bilang kata orang-orang kayak orangtua aja sholat 😢

Usia SMP adalah usia rawan, mereka sedang mencari jati dirinya, butuh pengakuan dan menunjukkan eksistensinya.

Kata wali kelas dan guru BK, emosi mereka gampang terpancing, cuma karena saling senggol dan bereng (lirik) aja bisa jadi masalah.

Kalau kejadian pada anak-anak di atas, cuma perkara ditertawakan. Si Zaki tidak senang diketawai oleh Luthfi dan Rayyan saat main game berkelompok. Menurutnya mereka nglece. Nglece itu bahasa Medan yang artinya ngejek 😁.

Zaki dinilai tempramental, teman-temannya sendiri yang memberi kesaksian, kalau dia ringan tangan.

Menurut sang Mama sebenarnya ni anak baik dan dermawan. Kalau punya uang suka diabisin buat dibagi-bagi sama pengemis yang ditemui. 👍

“Tapi Buk, Zaki sering cerita tentang Rayyan.. Rayyan gitu, gak ada masalah keknya , tapi kok marahan?” tanya mamanya Zaki kemudian .

Di rumah kutanya sama Rayyan tentang ini, “Iya, dia baek sama Rayyan, tapi suka iseng.”

Hari Jumat ini bentuk keisengannya yang mengkhawatirkan berkelanjutan .

Wajarlah anak-anak bercanda yakan , tapi kalau sudah menjurus penyerangan fisik janganlah  dibiarkan berlarut. Apalagi di kalangan anak laki-laki.

Dan sebenarnya anak kami bukan lebay, sedikit-sedikit mangadu ke orangtua, bahkan mamanya Luthfi tidak tahu kejadian tersebut seandainya tidak kutelepon.

Masalahnya, Zaki sudah berulangkali melakukan keisengannya.

Rayyan biasa bercerita apa pun padaku. Walau sebelum mulai cerita didului dengan ancaman , “Mama jangan lebay ya?” Wkwkwk . . . Emak-emak memang suka lebay, panikan.😜

Wali kelas dan guru BK mengapresiasi positif pada diskusi tiga orang emak ini (aku , mamanya Luthfi dan mamanya Zaki). Diputuskan Zaki akan didampingi sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Mungkin hingga ia dinilai benar-benar berubah.

Guru BK bilang (siapa ya namanya? Kenapa gak nanya kemarin ya?😰) bibit kekerasan, apalagi di sekolah harus diputus mata rantainya.  Jangan sampai terwariskan pada adik kelas.

Kan ada tu, abang kelas membully adik kelas , tidak dilaporkan , karena takut diancam , akibatnya kegiatan itu terus terjadi hingga seolah menjadi tradisi .

Orangtua dan guru harus bekerjasama. Anak-anak harus terus diperhatikan perkembangannya tapi  tanpa mereka sadari kalau  kita sedang mengawasi (jangan over protektiflah, Mak. Sayangnya kadang-kadang orangtua malah justru jadi paranoid. Ke sana tak boleh , kesini dilarang, melakukan sesuatu dicurigai, dan bentuk kekhawatiran lainnya. Akibatnya mereka tidak berani berekspresi.

Dibebaskan tanpa kendali pun jangan sampai terjadilah. Semua disesuaikan aturan dan usianya.
Apalagi ancaman narkoba,yakan?

Guru BK bilang, “ Anak sekarang tau itu bong, saya saja kalau tak dikasi tau mereka tak tau benda apa itu... “ (si Bapak kurang piknik bacaannya 😁

“Satu lagi Buk, buka chat sosmed orangtu , ngeri kali bahasanya ah...”

Wohoho... memang iya. Kita orang Medan aja jiper bacanya hadeeh.. 😭
*cek akun anak-anak...

Endingnya semua saling bermaafan, emak-emaknya juga, tapi kenapa lupa selfih ya?  *eehh... 😁

Minggu, 15 Januari 2017

Menghadiri Undangan Mantan Boss yang Sudah Pensiun

                            Demi foto ini, kami kekenyangan 😪😪


Lucu kurasa hari Sabtu kemaren . Kalau diingat bikin malu, senyum sendiri. Macam tak punya rasa kenyang kami. duduk lama-lama di meja. Bukan karena silap nengok hidangan tapi rencana pulang terhalang dua persoalan. 😁

Masuk gedung sejak pukul satu- an tapi berhasil sukses keluar pas sudah lewat Ashar. Ngapain cobak selama itu di dalam?

Ceritanya gini...

Suami bikin janji dengan tiga keluarga sahabat kami untuk datang ke pestanya mantan boss zaman masih muda dulu. Para suami kan pernah satu divisi yang dibawahi oleh pak Joni, namanya. Tapi tak bisa datang serentak  karena rumah kami berjauhan.

Start dari rumah jam 10.15 karena ada urusan singgah ke sekolah si bungsu, SMPN 7. Ada masalah sikitlah, hari Jumat dia dipukul kawannya di bagian kepala. Jadi aku mau ajak bincang wali kelas, guru BK sekaligus anak yang sudah terkenal sok jagoan di kelas.

Sayangnya wali kelas sakit, anak itu tidak masuk, guru BK juga tak datang. Kenapalah bisa sama-sama gitu,padahal sakitnya taklah janjian.  Senin diminta datang lagi sama wali kelas.

Karena acara diskusi tak jadi, kami kecepatanlah datang ke gedung. Ngapain, yakan? Mutar-mutar santai nyari mesjid, sambil nunggu yang lain. Selesai sholat masih sempat beli jambu biji, jalanku pun selow kali, tak seperti biasa srat-sret.

Eng ing eng..masuk gedung...

Si bapak boss senang kali lihat     teman-temannya datang. Mungkin teringat kisah mereka makan-makan. Si boss memang hobi nraktir anak buahnya makan-makan, senang berburu kuliner, sampe ada anekdot di kalangan mereka, “Pak boss dimarahi bininya kalau satu hari tak abis satu juta buat jajan." Hahahaha ... ada-ada aja.

Para suami bergabung, aku dan satu teman menjelajah menu . Jalan sana-sini, test semuanya.
Nelpon satu teman yang belum muncul jugak(si rusuh 😜) padahal seberapa muat perut mau diajak nyicipin semua menu.
Akhirnya ngobrol ,  tapi suara dendang lagu lama buat tak sedap bicara, lebih enak dengarkan lagu saja. Tapi bosan juga...

Nelpon kawan yang belom sampe itu. Enak kali dia jawab,”Alah udah makan lagi, pak Joni pesta cuma sekali, kan anaknya tunggal?” Dasar si rusuh,  wkwkwk...
Tak lama dia muncul...

Makan lageee.... Hahahaha

Akhirnya gerombolan suami ngajak pulang juga. Kami berduyun-duyun mau pamitan.

Padahal sama nyonya sudah cipika-cipiki, ibu-ibunya sudah foto, tukar souvenir , terus keluar sampai parkiran , tapi bapak-bapaknya tak kelihatan batang hidungnya.
Maksudnya apa?!
Nyangkut di mana?
Apa foto-foto manja jugak?! Hah...?😂

                            Sesi foto pun udah


Di parkiran kutelepon Kakang Honey.
“Belom boleh pulang, ngawani pak Jon, sampe tutup.”

Apaaa....?
Jadi cemana?
Kami udah pamitan, beserak di parkiran, mana hari panas lagi....

                                             Menunggu


Tak mungkinlah menunggu tanpa ada kejelasan kapan berakhirnya. Kami balek lagi dari pintu samping wkwkwk. Dan krucil makan lageee hahahaha..

Pak boss rupanya ingin foto rame-rame sama anak buahnya dulu. Itulah sebab kenapa tak boleh pulang cepat. Disuruhnya bolak-balek makan. Dia mau melayani tamu-tamu sebaya dulu, yang formal-formal dulu, baru kawan-kawan zaman dulu hahahaha...

Baiklah pak, selamat punya mantu... ..

#statusmamakMedan 

Selasa, 10 Januari 2017

Berburu Wifi Gratis



Kami datang ke resto itu memang dengan rasa lapar. Pasangan pernah muda (baca : aku dan suami) sengaja menyasar menu makanannya. Khusus menikmati kopi, aneka mie dan camilan lainnya. Berdua saja, tanpa anak-anak. Mereka tidak lagi mau diajak kongkow bareng remaja usia tua seperti kami. 

Datanglah pelayan, menawarkan menu. Pilih-pilih makanan, pesan, lalu menunggu hidangan datang. Sudah bukan hal yang anehlah kalau zaman sekarang ini saat menunggu sesuatu dimanfaatkan dengan otak-atik gadget. Begitupun dengan kami, tapi saat itu aku memilih untuk mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Henpon kuanggurkan sesaat, mau lihat yang lucu-lucu :D

Nyaris kursi-kursi yang tersedia diduduki oleh anak-anak muda. Paling usianya belasan, kalaupun lebih yah paling-paling tidak sampai tiga puluhanlah. Etapi kami santai saja, biarpun ada yang sekilas melirik, barangkali heran ya, nih senior ngapain di sini? Wkwkwk….

Sambil menunggu itu, kuamati rata-rata dari mereka memandangi sebuah leptop. Mungkin sedang mengerjakan tugas sekolah, download lagu, main game online atau entah apalah, tapi yang jelas nongkrong di sini karena wifi gretongnya, begitulah pendapatku setidaknya…
                                                           Serius....




Makanan datang, aromanya menguar, perut bertambah lapar, hajaaarrr….
                                                           Ini baru laparrrr...


Kami ciak-ciak serius loh, Mak..srat sret, tang-ting, palingan butuh waktu lima belas menit, semuanya sudah berpindah wadah. Meskipun ini tempat kongkow, tapi rasanya tidak asyik membiarkan mie sampai mendingin kan? Baru sesudah itu, bolehlah kita santai-santai, yang penting tujuan utama sudah kelar hahaha…

Ngomong-ngomong, kenapa anak-anak muda itu sedari tadi nganggurin minuman di hadapan mereka ya? Dua pemuda yang duduk di depan kami minumannya belum sampai setengah kurangnya. Samping juga begitu…malah yang di pojokan ada yang tertidur. Kata suami, kalau laptopnya diambil orang mungkin tidak akan sadar, nyenyak banget sih memang. Dan kami jatuh kasihan melihatnya, mungkin dia lelah, butuh mimpi…
                                                  Ada yang lelah..


Melihat posisi anteng mereka dengan hanya berbekal segelas minuman, aku jadi geli membaca beberapa tulisan di dinding yang berisi pesan macam-macam. Yang tidak boleh bawa makanan luarlah, meja tidak boleh berisi lebih dari empat oranglah, dan macam-macam lagi. Pesan-pesan itu sering berganti-ganti tema, kami sudah beberapa kali kemari, jadi tahu ada  yang berubah :P

Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, pemilik resto harus siap mangkel kalau ada yang cuma berbekal satu gelas jus atau minuman dan pulangnya nyaris saat jam tutup. Mau komplain? Apa berani tanggung resiko dikacangin anak-anak muda? Secara mereka itu geraknya di sosial media sangat aktif kan? Satu kali ngetwit bakalan anjlok rating sebagai tempat nongkrong kesayangan. Begitu pun sebaliknya, jika wifinya kenceng dijamin jadi rekomendasi tempat ngumpul idaman.

Fenomena berburu wifi gratis ini bukan saja di tempat nongkrong anak muda kan? Kalau check- in hotel yang pertama kali ditanya password wifinya. Masuk ke sebuah resto juga nanya password. Jangan harap sebuah tempat nongkrong anak muda, seberapa kerennya pun, tanpa wifi gratis akan ramai pengunjungnya. Kecuali resto tersebut makanannya punya level enak yang di atas rata-rata, yang pengunjungnya sampai nunggu nomor antrian demi mendapatkan meja, nah ini baru orang datang memang pure karena kulinernya. Kalau yang rasa makanannya biasa-biasa saja, tapi anak-anak muda betah duduk berlama-lama, tak ayal lagi, karena wifinya kenceng…hahaha…curiga saya..
                                                Modal segelas minuman....


Anak-anak yang duduk di sini rata-rata seusia anak kami yang sulung. Di tempat kostnya, wifinya kenceng, jadi urusan internetan untuk mengerjakan tugas dijamin aman. Zaman sekarang kost-kostan buat anak kuliahan/ sekolah tanpa wifi? Sepertinya akan menjadi pilihan terakhir buat mereka, itu pun sudah sangat terpaksa sekali karena di tempat lain sudah penuh.

Zaman sekarang, begitu urgentnya internet buat kita. Sehari tanpa internet berasa hidup di zaman pra sejarah. Berbagai aplikasi yang memudahkan mobilitas kita sudah banyak tersedia, kita tidak mau turut ambil bagian di dalamnya? Ya silahkan saja, masih bisa kok. Cuma kalau ada yang memudahkan mengapa tidak kita manfaatkan? Asalkan internet dipakai untuk tujuan positif pasti bermanfaat kan, Mak? 




Kamis, 05 Januari 2017

Trauma Kemalingan




Mak, sebenarnya aku sudah bisa move on dari bayangan rasa takut sosok pencuri yang memasuki rumah. Horornya sih tidak serupa dengan film misteri, tapi semacam lintasan pikiran kalau pencuri itu masih berada di sekitar kita. Udah nonton rekaman CCTV kasus perampokan di Pulomas kan ya? Ya lebih kurang begitulah settingan di pikiranku pada waktu itu.



Alhamdulillahnya Mak, pas kejadian kami tidak berada di rumah, jali-jali ke Brastagi, nyari udara dingin, sejenak meninggalkan gerahnya Marelan. Dua leptop raib Mak, celengan si bungsu juga diembat, isinya masih 150 ribu untungnya. Syukurnya peralatan dapur seperti kompor, wajan, magic com, gak ikutan digotong, xixixi… Enggak punya barang berharga lain Mak, suami dan anak kan dibawa..:D

Tapi Mak, lima hari yang lalu, salah satu kerabat dekat ngabarin kalau kejadian yang sama terjadi padanya. Ya kasusnya sama, saat kejadian rumah sedang tidak berpenghuni. Tak ada satupun penghuni terakhir yang mau tinggal, cos sedang ngumpul di salah satu keluarga, kan taun baru waktu itu, ngisi holide kayaknya. 

Pergi siang, pulangnya malam, gak nginep padahal, ya tapi kan rumah gelap-gelapan sesaat sesudah turun malam? Naah…diduga maling beraksi di saat magrib menjelang. Waktu magrib tuh jarang orang berkeliaran di luar rumah kan Mak? Maling yang gak mau ke masjid mencari-cari rumah yang tidak berpenghuni pastinya. 

Si adik yang baru kemalingan itu, kita panggil Bunga saja ya, takut untuk memejamkan mata, perasaannya si maling masih ada di sekitaran. Bunga was-was, kalau sampai ketiduran tiba-tiba maling menggunakan kesempatan untuk beraksi, duhh…gak enak memang terteror begini.
Pulang melihat rumah berantakan, jendela teralisnya copot, pintu terbuka, lemari-lemari pintunya pada somplak, coba bayangkan Mak sakitnya hati. Daripada  rasa kehilangan barang, perasaanku lebih kepada geram dan jengkel. Ada orang asing yang memasuki rumah kita tanpa izin, memasuki kamar, mengobrak-abrik segala penjuru pribadi, benar-benar tidak sopan, kan? Enaknya diapain coba manusia seperti itu kalau kita bisa menangkap langsung pelakunya? Digelitikin sampe lemas rasanya masih kurang pas untuk meluapkan rasa marah. Maka tak aneh kalau ada yang kalap sampai berlaku sadis pada maling yang tertangkap basah. Coba kalau dia yang tertangkap tangan oleh kita, nyawa orang yang akan dijadikan korban pun tega dihabisi.

Waktu itu Mak, kalau lihat sudut-sudut rumah, dalam hati aku bilang begini,”Ih, entah siapa itu pernah masuk ke sini, pegang ini, pegang itu…”. Sakiiiit…rasanya hati ini Mak.






Syukur punya suami tenang dan menenangkan. Kalimat-kalimat ademnya bisa membuatku cepat sadar, bahwa tidak ada gunanya untuk marah dan uring-uringan. Semua hal bisa terjadi, kehilangan kami tidak ada apa-apanya dibanding bila kami yang tersakiti secara fisik, andai kami berada di rumah. 

Ada tetangga yang bertanya kenapa tidak lapor polisi saja? 

Bukan tidak mau melapor Mak, juga bukan takut. Terpikir juga, sebaiknya tindakan itu jangan dibiarkan agar tidak terulang pada yang lainnya. Tapi Mak, menyaksikan sendiri beberapa kasus yang sudah dilaporkan kepada pihak berwenang, sampai saat ini tidak ada hasilnya. Waktu tersita, pikiran berputar ke itu-itu terus dan dana yang dikeluarkan untuk biaya akomodasi rasanya juga tidak sedikit. Belum lagi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang itu ke itu terus pastinya. Bukannya beres, waktu malah terbuang sia-sia. 

Lelaaaahhh….

Satu lagi sih yang jadi pertimbangan, waktu kami pergi, rumah diititipkan pada anak tetangga yang sudah seperti sodara, pas kejadian dia sedang kuliah sore, kalau dilaporkan kemungkinsn besar dia akan dicurigai. Kasihanlah, sudah kita minta tolong malah nanti dia yang disalahkan.
Akhirnya kami cuekin saja, tapi berdoa semoga Allah memberikan pelajaran sendiri pada si maling tak sopan yang entah siapa itu. Aku yakin, kapan dan di mana pasti dia akan mendapatkan buah dari perbuatannya sendiri. Penghasilan tidak halal digunakan untuk membiayai hidup?

 “Hati-hati woii, hukuman dari Allah itu pedih…”

Mak, andai itu terjadi, sudah ikhlaskan, insya Allah gantinya lebih membahagiakan.
Note : 

-          - Saat bepergian jangan tinggalkan barang berharga di rumah, jika takut tercecer titipkan pada orang  yang kita percayai.  
  
-          -Jika ditaksir pulang hingga malam hari, sebaiknya minta tolong tetangga terdekat untuk menyalakan lampu.


Senin, 02 Januari 2017

Menulislah Senyamannya....

   


              Mengisi blog pun bisa kehabisan ide? Bisalah... 😁





Gemeeeesss... dari kemarin kok ide melayang-layang terus. Sejatinya ingin segera mengeksekusi ke dalam tulisan, lah tangan diajak ngetik banyak alasan melulu. Tangan atau mood yang kedodoran ya? Kenapa jadi nyalahin tangan sih? Pas bener dengan kata-kata yang sering kukatakan pada si bungsu  saat dia ngeles buat tidur siang.

“Gak ngantuk loh, Ma. Gak mau tidur...."

Oke... tidak ngantuk. Tapi saat dia dengan alasan rileks sepulang sekolah, ingin nonton si Bolang, tau-tau televisi yang nonton dia?hihihi . . .

“Bang, mata dengan mulut itu tidak bisa kompromi loh. Mulut bilang enggak ngantuk, tapi mata merem, gak bisa diajak kompak , ya kan?”

Bungsu pasti bersungut-sungut kalau sudah ketahuan ketiduran.

Samakan?
Otak menyampaikan pesan ada ide yang bisa dijadikan tulisan . Eh si tangan tidak juga digerakkan untuk segera menulis. Alhasil semua menguap begitu saja, lalu mencari ide lain, begitu terus, waktu sudah terlewat, hari pun sudah berganti . Nol, satu artikel pun tidak ada yang dihasilkan . . .


Mengapa bisa tidak ada ide menulis?

Mungkin teman-teman lancar saja ya ide menulisnya, apapun bisa dijadikan bahan tulisan. Kalau saya moodnya sering bubar, menunda waktu, merasa ide itu akan bertahan, nanti saja menulisnya. Padahal... disamping banyak pekerjaan domestik ala emak-emak, seharusnya tahu diri bahwa daya ingat itu sudah melemah.
Seharusnya ketika ada ide langsung ketik atau tulis beberapa kalimat pengingat. Jangan sok-sokan merasa bisa memelihara kesegaran ide..(elus-elus jidat....).

Blog saya itu sebenarnya diary loh , harusnya banyak kejadian yang bisa ditulis, kan? Tapi maunya saya tulisannya itu ada bau-bau infonyalah. Terus kalau ada yang sowan bisa mendapatkan sesuatu untuk dikenang, ciee.... Minimal bisa senyum-senyumlah gitu...

Mak, saat mood melemah rupanya bagus kalau dibawa baca-baca. Sebagian orang mungkin nyari inspirasi bisa lewat jalan-jalan, mendengarkan atau apalah senyamannya. Tapi tadi, daku dapat ide lewat baca status teman fesbuk.
Dia penulis produktif, bisa menghasilkan sebuah cerpen dengan sekali duduk, diawali sebuah kalimat asal-asalan dulu malah. Baru kalau sudah mengalir, kalimat-kalimat yang kurang bagus diedit lagi menjadi sebuah karya indah. Keren kan?


                          Cari ide bisa dengan membaca 😍


Nah. ..tulisan ini saya buat justru memanfaatkan ketiadaan ide tadi (haiss sok!! Wkwkwk) Tadi diawali dengan kalimat asal, dan meski lambat mengalir juga (maksa..) 😁

Mak , masing-masing orang pasti punya cara dalam menjaring ide ya? Seorang penulis terkenal sekali pun pernah mengalami writer's block. Jadi ya manusiawi sekalilah kalau saya yang cuma menulis diary ini kena block tiap hari...(ngeless . . ) Jadi saya ingin menulis senyamannya dan dengan riset sebisanya . Kalau dibaca enak dan informatif , Alhamdulillah.... Kalau ternyata garing dan nyebelin,  mau dikata apa coba? Pasrah... 😥😥


Mak, udah dulu sebagai pembuka tahun 2017 ini ya?
Sebenarnya ada banyak resolusi, tapi saya mau simpan dalam hati dululah . Entah mengapa, malu buat menuliskannya, secara daku ini sering kena angin-anginan Mak.
Semoga tahun ini dan selanjutnya diberi kemudahan dalam mencapai resolusi dalam hati, hehehe...
Semangat!!!


*gambar-gambar diambil dari Google 
 
Diary Omak-Omak Medan Blogger Template by Ipietoon Blogger Template